Senin, 23 Maret 2009

Peran Pemuda Dalam Proses Pperbaikan Bangsa Dan Daerah

PERAN PEMUDA DALAM PROSES PERBAIKAN BANGSA DAN DAERAH


Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Satu nusa… satu bangsa… satu bahasa kita…Tanah air pasti jaya…untuk slama-lamanya…
Kaowilindo Kamokulahi........ KOEMO WUTO SUMANOMO LIWU..

Sebait lagu satu nusa satu bangsa yang menunjukkan kepada kita besarnya semangat dan cita-cita pemuda dalam masa pergerakan untuk mewujudkan sebuah negara bernama Indonesia yang bersatu. Pemuda adalah generasi penerus bangsa. Keabsahan slogan ini tidak terbantahkan karena mau tidak mau, sanggup atau tidak sanggup, pemudalah yang akan menggantikan kedudukan generasi-generasi sebelumnya dalam membangun bangsa. Selain itu, pemuda sudah sepantasnyalah menjadi agent of change, pembawa perubahan, yang membawa bangsa ini menjadi lebih baik, lebih bersatu, lebih makmur, lebih demokratis, dan lebih madani. Inilah kira-kira peran pemuda yang seharusnya dapat diwujudkan bersama.
Menilik sejarah, pada awal abad ke-20 Indonesia diwarnai oleh pergerakan kebangsaan yang tidak lain dimotori oleh para pemuda pada zaman itu. Sejarah mencatat Budi Utomo sebagai organisasi pertama yang mengubah watak pergerakan perlawanan, yang semula bersifat kedaerahan menjadi bersifat kebangsaan. Bangsa Indonesia disadarkan bahwa untuk dapat mencapai kemerdekaan, seharusnnya ada persatuan dan perasaan senasib yang melandasi perlawanan terhadap penjajah.Setelah dipelopori Budi Utomo sebagai organisasi kebangsaan pertama, bermunculanlah sekian banyak organisasi kebangsaan lainnya. Muhammadiyah, NU, Serikat Dagang Indonesia, Taman Siswa, sampai dengan PNI sebagai partai pertama yang dimiliki bangsa ini adalah contohnya. Kesemuanya memiliki orientasi dan cita-cita yang sama, persatuan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia.Sampai pada hari yang sangat menentukan bagi masa depan Bangsa Indonesia, 28 Oktober 1928 Kongres Pemuda II diselenggarakan di Jakarta. Kongres ini setidaknya menghasilkan tiga point penting, yakni kesadaran berbangsa Indonesia, bertanah air Indonesia, dan berbahasa nasional, Bahasa Indonesia. Inilah moment dimana semangat nasionalisme dikobarkan dan sedikit demi sedikit perasaan kedaerahan yang berlebihan dikikis dan diminimalkan. Inilah akselerator perjuangan perlawanan terhadap penjajah yang akhirnya mencapai titik endingnya melalui proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Inilah keadaan pemuda pada zaman pergerakan, hampir satu abad yang silam.
Sekarang?? Sebuah realitas mengenai penghayatan makna sumpah pemuda yang diselenggarakan sebuah media terkemuka menggambarkan betapa minimnya penghayatan terhadap nilai-nilai sumpah pemuda. Ketika ditanya tentang apa itu sumpah pemuda, kita kemungkinan besar akan menjawab bahwa sumpah pemuda sudah dipelajari sejak SD. kita akan mengetahui kalau tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Namun, hanya tahu sebatas tanggal saja. Selebihnya, kita hanya terpesona dengan romantisme sejarah. kenapa tidak, banyak diantara pemuda tidak mengetahui dan memahami perannya. ”Ironi memang melihat fenomena ini, tapi itulah yang terjadi. Pemuda pada zaman sekarang seolah-olah tidak mewarisi semangat nasionalisme yang didengung-dengungkan Sukarno, Hatta, Syahrir, tan malaka dan banyak tokoh-tokoh pemuda lainnya beberapa dasawarsa silam. Agaknya, tidak salah jika sebagian orang mengatakan bahwa nasionalisme pemuda kita telah berubah menjadi materialisme dan hedonisme, patriotisme telah berubah menjadi apatisme. Fenomena ini dapat kita tangkap dari keengganan sebagian pemuda kita untuk memikirkan masalah kebangsaan.“Jangankan soal kebangsaan, untuk masalah yang ada di sekitarnya saja banyak yang tidak peduli. Untuk berorganisasi di tingkat paguyuban saja susah untuk diajak dan melibatkan diri mereka. Yang dipikirin cuma bersenang-senang dan kepentingannya sendiri.
Dengan mengikuti alur sejarah “continuity and change”, maka peran kesejarahan generasi muda sekarang harus melintasi sekaligus tiga zaman, masalalu, masakini dan masadepan, yakni perpaduan kesadaran historis, kesadaran realistik, dan kesadaran futuristik, seakan membentuk segitiga utuh. Sebab, kesadaran historis semata akan melahirkan romantisme. Hanya ada kesadaran realistik akan melahirkan pragmatisme. Sementara, dengan kesadaran futuristik, yang lahir adalah generasi muda pemimpi. olehnya itu, perlu akselarasi ketiganya.
Generasi muda menghadapi dua medan sekaligus. Terhadap lingkungannya, ia dituntut untuk berperan sebagai katalisator bagi percepatan perubahan. Secara internal masih banyak masalah, baik secara kolektif belum menyatu dalam satu gerakan pembaharuan, maupun ia belum selesai dengan dirinya sendiri, yang secara pribadi ia harus “menjadi” seseorang yang punya prestasi, di mana keduanya untuk meningkatkan daya tawar generasi muda, sekaligus mengambil peran, dan bukannya meminta peran. kata bijak yang harus digunakan dengan persoalan ini adalah pemuda harus mempunyai karakter yang kuat. dan ini merupakan tanggung jawab kita semua, baik itu yang ada di tingkatan mahasiswa sebagai masyarakat intelektual, maupun pemerintah. kita bisa melihat bagaimana setiap negara maju pun tetap membina jiwa nasionalisme bangsanya agar tidak luntur. Negara seliberal bahkan semaju apa pun sangat memegang teguh prinsip nasionalisme, baik dalam pengembangan ekonomi, pendidikan dan politiknya. Justru globalisasi itu dijadikan sarana untuk memperbesar kepentingan nasionalnya. Lebih jauh lagi harus dilihat bagaimana negara-negara maju di Eropa melakukan nation building selama puluhan tahun, agar warga memiliki komitmen kebangsaan dan kenegaraan yang tinggi. Bahkan John F Kennedy juga mengajarkan: “Jangan bertanya apa yang diberikan negara kepadanmu, tapi bertanyalah apa yang bisa kamu berikan pada negara”.
Jauh sebelum Jhon F. Kennedy mengeluarkan kalimat yang berorientasi pada pengembangan karakter tersebut, leluhur kita terdahulu di kabupaten muna sudah merumuskan kalimat sakral, seperti yang sering di dengung-dengungkan semua orang muna, dan terdapat dalam sepenggal bait himne FKPMM, ........... "KAOWILINDO KAMOKULAHI.... KOEMO WUTO SUMANOMO LIWU...."
Dengan cara itu sebenarnya orang-orang terdahulu atau leluhur kita melakukan character building bagi kaum mudanya, agar memiliki komitmen pada nasionalisme bangsa sendiri untuk membangun masyarakat bangsa dan negara. Sebaliknya sebagian kalangan intelektual kita berpandangan bahwa di tengah globalisme ini, nasionalisme sudah tidak penting. Bahkan menempatkan nasionalisme sebagai bentuk dogmatisme, lalu mengajak untuk perpaling pada globalisme. Tampak bahwa cara berpikir ini hanya bersifat sekilas, tidak pernah menembus ke inti persoalan. Oleh sebab itu, character building warga negara perlu terus dilakukan agar mereka memiliki komitmen kebangsaan. Dan hanya dengan semangat kebangsaan itulah, generasi muda Indonesia akan memiliki pijakan yang kuat dalam menjalankan perannya di tengah-tengah tarikan percaturan global.

CATATAN AKHIR

SETIDAKNYA ada dua aras penting sebagai catatan akhir, agar bermuara pada bagaimana perumusan peran generasi muda ke depan. Indonesia bukan lagi sekadar cita-cita, tetapi sudah merupakan realita. Cita-cita Sumpah Pemuda memberi semangat, realita butuh “cita-cita baru”. Cita-cita baru yang bersemangat mempersatukan sekaligus merekahkan. Realita itu sudah ada, bernama Indonesia, buah dari cita-cita para pemuda pendahulu. Sekarang Indonesia butuh cita-cita baru, untuk mempersatukannya, sekaligus untuk merekahkannya dalam sebuah realita baru bernama Indonesia Baru, yang lebih berkeadilan, sejahtera, aman dan damai.
Kebangkitan Nasional 1908, ditetaskan di tengah cengkeraman penjajahan. Tantangan dan peluang Kebangkitan pemuda saat ini hampir sama sekaligus berbeda. Sama dalam cengkeraman penjajahan, tetapi berbeda motif, modus dan gayanya. Bukan lagi mengokupasi wilayah secara fisik, tetapi meremote melalui jejaring ekonomi global, sketsa politik internasional, gurita informasi, dan destruksi moral generasi. Pelakunya bukan lagi Portugis atau Belanda, tetapi konsorsium global beranggotakan lintas negara dan lintas benua.
Untuk itu, harus tampil sekelompok pemuda pembebas yang tercerahkan. Tampil menginspiring dan mengempowering bangsa ini untuk meretas segala kemungkinan dan ketidakmungkinan yang disuguhkan dalam cawan zaman globalisasi yang terus menggelegak dan berubah cepat. Itulah dua tantangan besar sekaligus tuntutan peran generasi muda, sebagai tumpuan masa depan bangsa, untuk bisa membangun sebuah Indonesia Baru dan mensinergikan segala kekuatan bangsa untuk melawan bentuk penjajahan baru, penjajahan global dalam semua aspek: politik, ekonomi dan kebudayaan.
Akhirnya saya berharap, kita semua menjadi pemuda yang memiliki jati diri dan orientasi gerakan yang jelas. menjadi pemuda yang bercirikan pemikir-pejuang sekaligus pembaharu, pemuda yang selalu bangkit melawan setiap kebijakan yang menindas, pemuda yang selalu mengedepankan ajaran keyakinan untuk seluruh umat, dan pemuda yang optimistik keras bahwa perjuangan akan selalu terealisasi, serta jangan menjadi pemuda yang cuma puas menjadi generasi peminta-minta.

Wassalam alaikum Wr. Wb.



Tondano, 31 Januari 2009


Ader Lapono
Anggota FKPMM

Minggu, 22 Maret 2009

FKPMM

FKPMM
FKPMM adalah Forum Komukasi Pelajar Mahasiswa Muna yang merupakan salah satu paguyuban yang berada di sulawesi utara sebagai tempat atau wadah untuk mahasiswa yang berasal dari muna yang berdomisilir di sulawesi utara. FKPMM lahir pada tanggal 15 oktober tahun 1990, atas kesepakatan seluruh mahasiswa muna yang ada di sulawesi utara Di tondano. FKPMM mempunyai misi terhadap masyarakat muna yaitu, "KOEMO WUTO SUMANOMO LIWU" dan ini di junjung tinggi oleh mahasiswa muna sulawesi utara sebagai pijakan untuk perkembangan muna.

blogger templates | Make Money Online